Total Tayangan Laman

Minggu, 15 Januari 2012

ANTARA NOVEL POP DAN SASTRA

Sebagai pengarang, saya dan juga anda semua tentu menulis karya fiksi entah itu novel atau cerpen dengan dua maksud yaitu untuk sastra atau popularitas. Kalau memang saya sendiri tentu tujuannya untuk popularitas, supaya novel saya laris keras dan ujung-ujungnya populer begitu karena saya sendiri yakin saya belum bisa menulis novel sastra yang serba serius dan berat bobot isinya.

Sebenarnya tidak masalah mau menulis novel sastra ataupun novel pop karena bila isinya bagus pun, pembaca tak akan protes apakah itu sastra atau pop. Baik novel sastra maupun novel pop punya keunggulan masing-masing. Jika menyangkut durasi waktu, novel sastra lebih langgeng posisinya karena sampai usia 100 tahun lebih pun akan terus dikenang dan terus dibaca oleh berbagai generasi, sementara kalau novel pop mungkin durasi kepopulerannya hanya berlangsung tak lebih dari 10 tahun, hanya berlaku untuk satu generasi saja lalu terlupakan, betapapun larisnya.

Sungguh sayang jika kita sebagai pengarang berniat menulis novel sastra, tapi akhirnya justru novel kita hanya dianggap karya pop belaka oleh sekian banyak pembaca. Memang begitulah beratnya membuat novel sastra yang serius, jadi lebih baik pelan-pelan saja dulu, buatlah novel yang mudah dibaca dan dipahami oleh pembaca dulu saja, tidak usah muluk-muluk 'nyastra', toh belum tentu kritikus sastra peduli karya kita. Jadi bagi yang berniat menulis novel atau cerpen, tulis saja tanpa berpretensi sastra. 

Tulisan ini juga saya niatkan untuk melecut semangat menulis diri saya sendiri yang hingga kini juga belum mampu membuat karya sastra yang membanggakan, cukup novel pop saja dulu. Nanti saja bila sudah cukup berpengalaman, saya baru akan membuat novel sastra.


1 komentar:

  1. Novelnya apa nh... aku juga lagi nulsi novel hehe salam kenal..

    BalasHapus